Menikahkan Korban dengan Pemerkosa: Demi Siapa?


Menikahkan korban dengan pemerkosa sebenarnya bukanlah hal baru, kasus seperti ini juga tak kunjung menjadi sejarah, setiap tahun masih sering terdengar kasus serupa, sialnya, juga ditangani dengan penyelesaian serupa: menikahkan korban dengan pemerkosa.

Korban dari kejahatan seksual ini tidak sedikit yang masih berusia 'dini'. Maka sangat disayangkan ketika satu-satunya jalan yang diambil adalah dengan menikahkannya dengan tersangka. Alih-alih menghindari perkawinan anak, persoalan semacam ini selalu memiliki pengecualian. 

Di Indonesia, telah ditetapkan bahwa 18 tahun adalah umur minimum bagi perempuan untuk menikah, akan tetapi, ketika menghadapi persoalan 'pernikahan karena pemerkosaan' seringkali hanya sekadar wacana, tak pernah diindahkan. Dengan alasan menyelamatkan status sosial. Status sosial siapa? 

Memang tidak bisa dipungkiri, menikahkan korban dengan tersangka, sejauh ini masih saja dipercaya bagi sebagian besar masyarakat kita sebagai misi penyelamatan untuk korban, hal inilah yang benar-benar dilakukan oleh para orang tua, orangtuanya sendirilah yang meminta agar pelaku dinikahkan dengan anak perempuannya. Sungguh, ini merupakan satu-satunya bentuk permintaan pertanggungjawaban yang sangat tidak masuk akal, paling tidak menurut saya.

Saya masih bertanya-tanya, sampai saat ini, penyelamatan semacam apakah yang dirindukan para orang tua korban? Memangnya siapa yang bisa jamin, ketika menikahkan pelaku dengan korban, kedepan, tidak akan ada lagi pelecehan serupa, tidak ada lagi pemerkosaan, kekerasan, dan kebiadab-kebiadaban lain yang disasarkan kepada korban? 

Bagaimana jika, pelaku melakukan kejahatan yang sama setelah menikah? Bukankah berarti, membiarkan pelaku menikahi korban, sama dengan halnya kita turut berkontribusi mendukung kebiadaban yang sama yang dilakukan pelaku? Dan tentu saja, pada kesempatan baru ini, pelaku akan dilindungi, -sebagai suami, dan anggota keluarga, karena masih banyak dari kita mengimani, bahwa tidak ada 'kekerasan seksual' di dalam rumah tangga.

Sebatas itukah bentuk pertanggungjawaban yang kita minta kepada pelaku, sungguh hukuman dunia yang paling menyenangkan.

Saya pikir, penyintas hanya butuh dukungan, bukan dinikahkan. Pemaksaan dalam berhubungan seksual, sebagaimanapun statusnya, tetaplah pemerkosaan. Saat penyintas diminta untuk mau menikah dengan pelaku, ini sama halnya ia telah dipaksa sekaligus diperkosa ulang oleh masyarakat, dan yang lebih miris lagi, juga oleh media masa yang minim sekali hadir dengan keberpihakannya terhadap korban.

Sebenarnya, keputusan menikahkan korban dengan pelaku, atas keterlibatan orang tua, ya di sini saya tidak bermaksud menyalahkan sepenuhnya. Saya hanya menyayangkan, betapa masyarakat kita, ketika dihadapkan dengan persoalan seperti ini, hanya berfokus kepada 'aib' yang juga acap dianggap sebagai kutukan untuk keluarga dan daerahnya, bukan terhadap tindakan kejahatan pelakunya.

Maka ketika kejadian ini santer terdengar di masyarakat, hal yang paling sering dilakukan oleh keluarga bersangkutan tidak lain ialah memikirkan bagaimana menutupi sesuatu yang disebut sebagai 'aib', yakni dengan menikahkan, bukan memikirkan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan korban dari trauma dan stigma, bukan hadir untuk memberi ruang aman dan harapan-harapan baru. Jadi, saya rasa menikahkan korban pemerkosaan dengan pelaku adalah semata-mata demi memenuhi syahwat norma masyarakat kita, sama sekali bukan demi korban. Sama sekali.



0 Response to "Menikahkan Korban dengan Pemerkosa: Demi Siapa?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel