Gadis Pakai Lingerie, Salahkah? #Tanyapuji


(Source Nipplets)
Saya masih ingat betul hari itu ketika saya dan teman saya berburu kado untuk dibawa ke pesta pernikahan salah satu teman sekelas kami. Saat itu pikiran nakal kami auto on, alih-alih memberi hadiah berupa perlengkapan rumah tangga, kami memilih pakaian dalam agar dapat menciptakan percikan-percikan gairah untuk meningkatkan kualitas hubungan seksual mereka.

Ketika sedang sibuk memilih cum menakar-nakar harga, tiba-tiba teman saya ini melipir ke tempat pelbagai model lingerie di pajang. Dari model biasa sampai model kinky

Ada lingerie jenis klasik dan sederhana dengan warna-warna pastel, ada juga yang bentuknya seperti bodysuit, korset, sampai yang memiliki garter belts atau straps yang dikaitkan dengan stoking setinggi paha.

Melihat wajahnya yang keheranan dan berdecak ingin tentu mengundang rasa penasaran saya juga untuk melihat-lihat desain dan jenis lingerie yang lucu-lucu dan lumayan mahal untuk kelas perempuan proletar seperti saya ini. Saya coba meraih satu dan menempelkannya pada tubuh.

"Eh, cocok, nih. Warnanya juga". Kata saya menyita pendapat.

"Loh, iya. Bagus ih cantik banget dong ini pasti dipakek. Tapi takut dikomen apaan lagi beliin kaya gini punya suami aja belum, haha". Timpalnya.

Loc; indometro
Mendengar jawabnya lantas membuat saya sadar, ternyata disini masih,--paling tidak disekeliling saya--, apapun yang berhubungan dengan seksualitas pasti akan dianggap tabu, sekalipun hanya berupa alat kontrasepsi, pakaian dalam, lingerie, dan atribut lainnya seperti pembalut dll. Segala tata pakai sampai tata pembahasan harus benar-benar menyesuaikan tempat, status pemakai, atau jika tak sial, akan ditambah-tambahi mitos-mitos purba.

Padahal apa salahnya, seorang perempuan yang belum menyandang gelar 'istri' atau yang belum berpasangan mau memakai lingerie? Toh, memakai ‘lingerie’ tidak juga harus melulu hanya untuk pasangan, untuk memancing gairah pasangan. Saya rasa siapapun, --tanpa ada keharusan memiliki status yang melekat dahulu--, sah-sah saja ketika ingin memakai lingerie yang dianggap menarik perhatiannya sesuai dengan preferensi atau ekspresi diri, terlebih jika itu sebagai bentuk ‘self-love’ terbaik mereka.

Lagipula kita juga tidak akan benar-benar tahu bahwa hal-hal seperti ini dapat membuat seseorang mampu melihat tubuhnya dengan pandangan yang lebih positif. Bukankah kita sudah terlalu lama diracuni oleh standar kecantikan yang ndakik-ndakik dengan gambaran tubuh yang telah dimanipulasi oleh photo editing sehingga sering kali melupakan bahwa tubuh sendiri adalah cantik, mempesona, dan pantas untuk diapresiasi pun dicintai.

Sebenarnya hal ini juga sudah lama dikampanyekan oleh Nipplets, perusahaan yang menjual lingerie itu. Ada beberapa hal yang ramai dikampanyekan di media sosial atau di website nya yakni “Real People, Real Bodies”. Kampanye ini sendiri menggandeng perempuan-perempuan biasa yang bukan model atau artis-artis papan atas, Nipplets melibatkan perempuan dengan bentuk tubuh yang beragam, dari yang secara standar dianggap kurus sampai gemuk.

(Source Nipplets)
Konon, kampanye tersebut digalakkan selain untuk berjualan juga untuk menyampaikan edukasi seputar seks, bahwa mengenakan lingerie juga dapat mendobrak stereotip yang menyatakan bahwa perempuan tidak boleh terbuka dengan seksualitas mereka seperti lelaki. Mindset yang tumbuh dari kepercayaan umum bahwa seks adalah bahasan yang terlalu maskulin dan hanya dapat dibicarakan oleh laki-laki ingin dipangkas habis oleh Nipplets.

Ya pada akhirnya kita juga perlu memahami, bahwa ada beberapa perempuan yang merasa percaya diri, baru melihat ada kecantikan pada tubuhnya sendiri, merasa seksi dan berdaya dengan cara-cara yang belum tentu semua orang mengamini. Lingerie barangkali sudah menjadi selingkung di kehidupannya, yang bisa jadi juga dipercayai dapat mendobrak standar kecantikan yang tidak realistis.

Jadi, betapapun lingerie dianggap tabu untuk dipakai oleh sembarang orang, seperti anggapan lingerie hanya untuk perempuan-perempuan nakal jika dipakai oleh selain yang memiliki suami, saya sendiri tidak masalah, setiap orang kan memiliki standar penilaiannya masing-masing. Mau ambil pilihan apalagi selain menjadi diri sendiri yang semerdeka-merdekanya dan senyaman-nyamannya kita sebagai pemilik tubuh. Lagi pula mustahil dapat menyeragamkan standar orang, kan?

Selalu ingat bahwa mencintai diri sendiri adalah sebuah prioritas utama and it is okay to show your sexual side.

0 Response to "Gadis Pakai Lingerie, Salahkah? #Tanyapuji"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel