Review Film Joker


Sepekan ini sepertinya kita sepakat bahwa film Joker begitu viral, setiap sudut lini masa membahas sosok Arthur Fleck, seorang Joker yang hidup sepi bersama ibunya, Penny fleck, dalam Gotham yang sedemikian gaduhnya.

Selain menceritakan latar belakang, banyak juga kita dapati review bagaimana 'kejahatan' seorang Arthur yang awalnya 'nerimo' dengan segala perlakuan buruk dari sekelilingnya, menjadi pembunuh berdarah dingin. Namun, setelah berhasil menonton dengan masnya ehh, menurut hemat saya, review yang pernah saya baca terlalu heroik untuk menggambarkan 'kejahatan' atau 'kebaikan' sosok joker ini.

Awalnya, Arthur menjalani kehidupan sehari-harinya menjadi sosok badut; badut sewaan adalah pekerjaan sehari-harinya. Meskipun, di sisi lain, pada saat tidak berpenampilan badut pun ia dianggap sebagai badut, kelainan yang dialaminya membuat sosok Arthur dapat tertawa bahkan dalam keadaan yang sangat menekan. Sehingga tidak jarang ia diolok-olok bahkan dikerjai oleh orang-orang disekitarnya.

Dalam scene, saya lupa menit keberapa, kelainannya ini mengakibatkan dia dikeroyok oleh tiga pemuda, pemuda tersebut mengira bahwa Arthur sedang mengejeknya, -- yang kemudian membuat Arthur perdana memainkan pistolnya dengan serius, -- pelurunya mengoyak kaki dan perut ketiga pemuda tersebut.

Dalam hal ini, Arthur mampu mengantarkan penonton melihat transformasi bagaimana seseorang yang awalnya memilih diam ketika disakiti lalu akhirnya mampu mencapai di titik balik yang membuatnya superior – dalam arti yang negatif. Ia bisa memerankan kompleksitas Joker dengan halus tanpa cacat.

Pada film ini, jangan bosan jika selama 2 jam 2 menit hampir dari awal sampai akhir, wajah dan ekspresi Joaquin Phoenix yang benar-benar memainkan emosi begitu mengisi layar. Todd Phillips agaknya memang benar-benar paham bahwa untuk membawa penonton masuk ke dunia Joker, ekspresi wajah adalah koentji.

Namun, ada satu hal yang menarik, --paling tidak menurut saya. Keberadaan rokok yang begitu akrab pada setiap keadaan Arthur. Ketika dia sepi, tertekan, sampai ia harus memainkan leluconnya, --membunuh-- kita akan begitu tidak asing dengan keberadaan rokok diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.

Barangkali karena Arthur, dalam film ini ia memerankan sebagai masyarakat menengah kebawah --buruh. Kita ketahui juga bagaimana rokok begitu akrab dengan buruh, malah saya kira tidak berlebihan ketika kita disuruh untuk mengambil pelajaran dari para buruh yang merokok tentang arti ketenangan, mungkin satu hisapan dalam konteks fiktif adalah kehidupan belajar menyegarkan diri. Hisapan selanjutnya penuh arti.

Kalainan kejiwaan yang dihadapi Arthur, barangkali membuat ia sulit untuk mengontrol diri, obat-obatan yang ia dapat dari seorang dokter pun tidak cukup membantu menyembuhkan, atau paling sedikit, hanya membantu menenangkan. Mungkin disinilah betapa rokok dapat menenangkan Arthur, begitu menenangkan, membunuh dokter perempuan itu pun dengan begitu tenang.

Saya tidak merokok, rasanya ngawur sekali jika saya menyertakan kegunaan 'rokok' dalam memberikan review film Joker ini. Namun, begitulah yang saya ikuti dari menit pertama, bagaimana selain melakukan ritual penenangan diri, --seperti tarian. Arthur banyak terlihat jauh lebih tenang, jauh lebih taktis dengan rokok di sela jarinya.

Saya sendiri tidak bisa mengatakan orang jahat --Joker-- adalah orang baik yang tersakiti. Karena saya pikir sikap baik dan jahat memang berpotensi ada pada satu tubuh. Joker juga manusia biasa, ia bisa sangat kesepian dan tertekan, ia bisa menjadi liar dan mengerikan ketika keadaan benar-benar mempermainkannya. Layaknya manusia biasa, ia bisa tidak menerima lelucon pada kehidupannya, sampai ia mengatakan, bahwa sekalipun harus mati, 'Kematiannya harus lebih masuk akal dari pada kehidupannya'.


08/10/2019
Bandar Lampung.

0 Response to "Review Film Joker"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel