Sepotong Kisah Dari Bagian Barat Negeri



Pagi membingkiskan cahaya di jendela, anak-anak sibuk bermain petak umpet dengan baju, sepatu, kaos kaki, buku-buku, dan apa saja yang hendak diculiknya menuju sekolah.

Burung-burung menjadi kelompok paduan suara; menggelar upacara; mengheningkan cipta bagi daun-daun yang semalam gugur diterpa kedinginan.

Aku masih betah di rahim ketika ibu sedang membuat kopi. ibu sedang mengelus-elus perut ketika aku sedang menulis ini.

Di luar, kata-kata terdengar ramai; berlomba-lomba jadi yang tercepat untuk masuk ke telinga. perbincangan yang tidak pernah kabur dari salah-menyalahkan, bodoh-membodohi; perbincangan yang masih tentang hal yang itu-itu saja; yang masih panas serupa tubuh ayah kemarin sore.

Sekarang di sini--atau juga bahkan di tempat lain, percakapan sulit sekali meloloskan diri dari kecelakaan kemarin sore. seperti menjadi benang yang mengubungkan manusia dengan layang-layang.

Lalu aku berbicara dengan caraku, "kelak, ketika aku sudah terlahir dan memiliki nama, aku akan menjadi api penyesalan yang tidak berhenti membakar hati iblis-iblis yang menyerupai manusia kemarin sore."

Sambil mengelus-ngelus perut yang di dalamnya terdapat aku, aku mendengar ibu berbicara, "andai saja kemarin ayah tidak dibakar hidup-hidup, kopi yang ibu buat ini pasti sudah langsung habis diminumnya sebelum ia berangkat kerja"

Metro, Lampung '17

0 Response to "Sepotong Kisah Dari Bagian Barat Negeri"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel